assalamualaikum welcome to my blog, insyaallah god bless you
Karya anak SMP-IT Istana Mulia

Rabu, 17 Juni 2015

Rangkuman Buku The Talent War


THE

TALENT

WAR

 

The Talent WAR Merupakan buku pedoman bagi korporasi modern untuk menghadapi isu yang paling menekan saat ini, yaitu mengidentifikasi dan menarik orang – orang bertalenta, sekaligus mempertahankannya agar berkontribusi dalam organisasi.

 

Di tengah kompetisi bisnis yang semakin ketat dan munculnya cara berpikir baru dari angkatan kerja baru, perusahaan tidak dapat mengandalkan cara dan metode tradisional untuk menarik dan mempertahankan karyawan bertalenta. Karena kini kekuasaan juga sudah bergeser dari tangan pemberi kerja ke pekerja, nilai – nilai dan lingkungan kerja yang ideal akan menjadi lebih penting untuk menjaga kelangsungan bisnis. Kini hubungan antara atasan dengan bawahan membutuhkan dinamika baru. The Talent War akan menunjukkan kepada Anda bagaimana menjadi perusahaan idaman pencari kerja, menarik orang –orang tercemerlang dan terbaik, serta mempertahankan mereka agar tetap bekerja di perusahaan anda.

 

 

The talent war mendapatkan, mengembangkan dan menemukan orang terbaik untuk organisasi. Buku ini secara rinci membahas : Menemukan orang bertalenta, Keuntungan dan kerugian merekrut dan menggembangkan orang bertalenta, Merekrut untuk keberhasilan berkelanjutan, Mempertahankan orang terbaik, Mengembangkan budaya “Good Boss”

Peter Drucker menyatakan bahwa “faktor dominan penentu dunia bisnis dalam dua decade mendatang bukanlah perang, wabah penyakit atau bumi yang bertabrakan dengan sebuah komet, ekonomi atau teknologi. Faktor penentu dominan dalam dunia bisnis adalah faktor demografi.”

 

Kini semakin sulit menemukan dan mempertahankan karyawan bertalenta. Lalu, bagaimana cara untuk menarik mereka yang bertalenta tersebut?

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menggunakan metode “staf advocate”. Sebagai contoh, the Australia and New Zealand (ANZ) banking group (bank terbesar ke – 3 di Australia) secara rutin bertanya kepada karyawannya apakah mereka mau merekomendasikan kepada teman dan saudaranya untuk bekerja di ANZ.

 

Terlalu sering proses rekrutmen dilakukan dengan cara outsource. Padahal, merekrut karyawan merupakan fungsi penting yang harus anda lakukan sendiri sebagai seorang manager. Jadi, mengapa anda tidak melakukannya secara serius?

 

Sebuah studi yang dilakukan oleh the Australian Centre for Indrustrial Relations, Research and Training di University of Sydney pada tahun 2003, mengenai tempat – tempat kerja terbaik di Australia, mengindikasikan bahwa ada lima belas (15) kunci pendukung (yang dilakukan baik oleh manajemen maupun staf) untuk mencapai posisi sebagai tempat bekerja yang baik.

 

Kelimabelas karakteristik kunci pendukung tersebut adalah :

  1. Kualitas dari hubungan kerja
  2. Kepemimpinan di tempat kerja
  3. Kesempatan untuk bicara
  4. Nilai – nilai yang jelas
  5. Kondisi yang aman
  6. Lingkungan yang telah siap
  7. Rekrutmen
  8. Gaji dan kondisi lainnya
  9. Mendapatkan umpan balik
  10. Otonomi dan keunikan
  11. Rasa memiliki dan identitas
  12. Belajar
  13. Hasrat
  14. Bersenang – senang
  15. Hubungan dengan komunitas

 

Sekarang jelas bagi kita bahwa perbedaan terbesar antara bisnis yang memiliki karakter “good boss” dan “bad boss” terletak pada kepemimpinan, hubungan antara karyawan dengan atasan langsungnya dan etika bisnis yang dianut.

Para manajer memainkan peran penting dalam proses pengembangan kelebihan bisnis yang sukses. Pengaruh mereka terhadap karyawan tidak boleh diremehkan. Meskipun manajemen yang buruk membuat kondisi bisnis yang biasa – biasa saja menjadi buruk, manajer terbaikpun memiliki kemungkinan kecil dapat menerapkan prinsip atau tujuan ke dalam organisasi yang tidak memiliki nilai – nilai perusahaan atau arah yang jelas. Membentuk nilaidan menetapkan tujuan adalah tugas PEMIMPIN. Dan jika para pemimpin gagal melakukan tugasnya, mereka memiliki risiko kehilangan orang, keterampilan, dan talent yang diperlukan untuk keberhasilan perusahaan.

 

Pemimpin yang baik bersedia turun tangan langsung membantu bawahannya dengan cara yang terbaik. Mereka juga, hampir tanpa pengecualian, adalah komunikator yang baik. Mereka memiliki visi. Mereka meninggalkan jejaknya. Mereka tidak takut berbuat salah. Pemimpin yang baik juga tidak menyembunyikan kesalahan. Para pemimpin ini mendorong staf nya untuk ikut serta dan menaikkan kinerja mereka. Seorang pemimpin yang baik tidak hanya bias bicara, mereka benar – benar melakukan hal yang benar.

 

Apa yang membentuk pemimpin “good boss”?

 

  • Berkonsentrasi memahami orang anda
  • Tetapkan apa saja yang perlu dilakukan
  • Tentukan apa yang “baik” bagi perusahaan
  • Buatlah action plan dan strategi
  • Buatlah dan ambil tanggung jawab untuk membuat keputusan
  • Buat dan ambil tanggung jawab untuk mengkomunikasikan ide dan rencana
  • Tetap fokus pada peluang, bukan masalah
  • Pelihara kedisiplinan waktu
  • Gunakan Bahasa yang menggambarkan kebersamaan
  • Siapkan dan buat rencana sukses

 

Apa yang membentuk pemimpin “bad boss”?

 

  • Tidak muncul atau bersembunyi untuk menghindari masalah
  • Gagal memberi umpan balik atau meminta masukan dari para karyawan
  • Mengaku – ngaku keberhasilan atau ide karyawannya
  • Berbohong mengenai gaji, bonus atau fasilitas yang dijanjikan
  • Memaksa karyawan untuk melakukan yang dia sendiri tidak melakukannya
  • Micro – managing
  • Memaksa karyawan untuk secara rutin datang cepat dan pulang larut
  • Mengkritik karyawan secara terbuka di depan umum
  • Memperlakukan karyawan seperti anak – anak
  • Memiliki karyawan favorit
  • Iri pada kehidupan pribadi karyawan

 

Akhirnya, dengan sangat yakin kita mengatakan bahwa menyeleksi, melatih dan mengembangkan karyawan yang berkualitas untuk kemudian kita pertahankan bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Berdasarkan pengalaman observasi dan riset, perusahaan – perusahaan yang berusaha keras melakukan upaya tersebut akan memperoleh hasil yang lebih baik, dalam kaitannya dengan produktivitas dan profitabilitas. Sering kali, masalah terbesar adalah menyadari bahwa para manajer, pemilik, direktur dan semua yang terlibat dalam mengatur dan memotivasi orang justru menjadi pihak yang menghalangi usaha kita. Bagaimana kita bias menganggapi dan menyeleksi sebuah informasi dan proses dapat menjadi hambatan terbesar kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar